Minggu, 09 Januari 2011

KLASIFIKASI AYAT-AYAT DAN SURAT-SURAT AL-QURAN ( by indonesia language)

            Untuk mengetahui dan menentukan Makkiyah dan Madaniyah, para ulama bersandar pada dua cara utama: sima’i naqli (pendengaran seperti apa adanya) dan qiyashi ijtihadi (bersifat ijtihat).
Cara pertama didasarkan pada riwayat shahih dari para sahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu, atau dari para tabi’in yang menerima dan mendengar dari para sahabat bagaimana, dimana dan peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya wahyu itu.

            Cara qiyashi ijtihadi didasarkan pada ciri-ciri Makkiyah dan Madaniyah. Apabila dalam surat Makkiyah terdapat suatu ayat yang mengandung sifat Madani atau mengandung peristiwa Madani, maka dikatakan ayat itu Madani. Dan apabila surat dalam Madaniyah terdapat suatu ayat yang mengandung sifat Makki atau mengandung peristiwa Makki, maka ayat tadi dikatakan sebagai ayat Makkiyah. Bila didalam suatu surat terdapat cirri-ciri Makkiyah, maka surat itu dinamakan surat Makkiyah.
Demikian pula bila dalam suatu surat terdapat cirri-ciri Madaniyah, maka surat itu dinamakan surat Madaniyah.

            Oleh karena itu, para ahli mengatakan, “setiap surat yang dalamnya mengandung kisah para nabi atau umat-umat terdahulu, maka surat itu adalah Makkiyah. Dan setiap surat didalamnya mengandung kewajiban atau ketentuan hukum, maka surat itu adalah Madaniyah. Begitu seterusnya”. Al ja’bari mengatakan, ‘untuk mengetahui Makkiyah dan Madaniyah ada dua cara: sima’i (pendengaran) dan qiyashi (analogi/pemikiran)”.
Sudah tentu sima’i pegangannya berita pendengaran, sedang qiyashi berpegang pada penalaran.

            Untuk membedakan Makkiyah dan Madaniyah, para ulama mempunyai tiga macam pandangan yang masing-masing mempunyai dasar-dasarnya sendiri.
Pertama: dari segi waktu turunannya. Makkiyah adalah yang diturunkan hijrah meskipun bukan di Makkah. Sedangkan Madaniyah adalah yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun bukan diMadinah. Yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun di Makkah dan Arafah, adalah Madani, seperti yang diturunkan pada tahun penaklukan kota Makkah, misalnya firman Allah sebagai berikut:

 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak...
(An-nisa:58).

Ayat ini diturunkan di Makkah, dalam Ka’bah pada tahun penaklukan Makkah, atau diturunkan pada hari haji Wada’, seperti firman Allah:

“Hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu, telah Ku cukupkan kepadamu ni’mat Ku dan telah Ku ridha’i islam menjadi agama bagimu.  (al-maa’idah:3)1.

Kedua: dari segi tempat turunnya. Makkiyah adalah yang diturunkan di Makkah dan disekitarnya seperti di Mina, Arafah, dan Hudaibiyah.
Dan Madaniyah adalah yang turun di Madinah dan disekitarnya seperti Uhud, Quba’ dan Siil. Namun, pendapat ini berkonsekuensi tidak adanya pengecualian secara spesifik dan batasan yang jelas. Sebab, yang diturunkan diperjalanan, seperti di Tabuk atau Baitul Maqdis, tidak termasuk kdalam salah satu bagiannya,2) sehingga statusnya tidak jelas, Makkiyah atau Madaniyah. Akibatnya yang diturunkan di Makkah walaupun sesudah hijrah,tetap disebut Makkiyah.
 Ketiga: Dari sisi sasarannya,. Makkiyah adalah seruannya ditujukan kepada penduduk Makkah dan Madinah adalah seruannya ditujukan kepada penduduk Madinah. Berdasarkan pendapat ini, para pendukungnya menyatakan bahwa ayat Al-Quran yang mengandung seruan “ya ayyuhan-nas” (wahai manusia) adalah Makkiyah.
Sedangkan ayat yang mengandung serum “ya ayyuhal-ladzina amanu” (wahai orang-orang yang beriman) adalah Madaniyah.

Namun jika diteliti dengan maksama, ternyata kebanyakan kandungan Al-Quran tdak selalu dibuka dengan salah satu seruan itu.
Penetapan ini juga tidak konsisten. Misalnya, surat Al-Baqarah itu disebut Madaniyah, tetapi didalamnya terdapat ayat:

“wahai manusia, beribadahlah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”. (Al-baqarah:21).

Dan firmanNya,
 “wahai manusia, makanlah makanan yang halal dan baik apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikiti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu”. (Al-baqarah:168).

Surat An-nisa adalah Madaniyah, tetapi dibuka dengan “ya ayyuhan nas”. Surat Al-Hajj, Makkiyah, tetapi didalamnya terdapat juga:


“wahai orang-orang yang beriman, ruku’ lah kamu, sujudlah kamu dan beribadahlah kepada Tuhanmu serta perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”
(Al-hajj:77)

Al-Quran Karim adalah seruan Allah terhadap semua makhluk. Ia dapat saja menyuru orang beriman dengan sifat, nama, atau jenisnya.
Begitu pula orang yang tidak beriman dapat diperintah untuk beribadah, sebagaimana orang yang telah beriman agar konsisten dan menambah ibadahnya. 

      Para ulama antusias untuk menyelidiki surat-surat Makkiyah dan Madaniyah. Mereka meneliti Al-Quran ayat demi ayat dan surat demi surat untuk ditertibkan sesuai dengan turunnya, dengan memperhatikan waktu, tempat, dan pola kalimat.
Lebih dari itu, mereka mengumpulkan antara waktu, tempat dan pola kalimat.

      Abul Qasim Al-Hasan bin Muhammad bin Habib An-Naisaburi menyebutkan dalam kitabnya At-Tanbih’ala Fadhli’ Ulum Al-Quran, “diantara ilmu-ilmu Al-Quran yang paling mulia adalah ilmu tentang Nuzul Al-quran dan sekitarnya. Seperti yang diturunkan diwaktu malam: siang: diturunkan secara bersama-sama,3) atau yang turun secara tersendiri : ayat-ayat Madaniyah dalam surat-surat Makkiyah: dan sebaliknya, dan yang dibawa dari Madinah ke Habasyah,4). Dan yang diturunkan secara global dan telah dijelaskan: serta ayat-ayat yang diperselisihkan antara Madani dan Makki itu semua ada dua puluh lima macam. Orang yang tidak mengetahui dan tidak dapat membedakannya ia tidak berhak berbicara tentang Al-Quran.

      Seumpama kita berpegang pada pendapat Abul Qasim an-naisaburi yang memandang urutan Al-Quran berdasarkan metode sejarah temporal, tentu kita harus membagi masa turunannya masing-masing surah Makkiyah dan yang Madaniyah dalam tiga tahap, yaitu: Tahap permulaan, Tahap pertengahan, dan Tahap penghabisan. Untuk menentukan tahap-tahap tersebut kita tidak perlu bersusah payah seandainya berpegangan pada riwayat-riwayat hadits yang ber-isnad shahih dan menggunakan kriteria (ukuran) yang telah ditetapkan oleh para ahli hadits. Karena itu tidak mudah mengetahui dengan tepat tahap-tahap turunnya bagian-bagian Al-Quran kecuali mereka yang memeluk islam paling dini.
     
      Diantara surat-surat yang disepakati oleh para ahli sejarah dan para ahli tafsir sebagai bagian Al-Quran yang turun dalam tahap permulaan di Makkah, ialah:
Al-alaq, Al-mudatsir, At-taqwir, Al-a’laa, Al-lail, Al-insyirah, Al-‘adiyat, At-takatsur, dan An-najm.
Surat-surat Makkiyah yang turun dalam tahap pertengahan ialah: ‘Abasa, At-tiin, Al-qari’ah, Al-qiyamah, Al-mursalat, Al-balad, dan Al-hijr.

Surat-surat Makkiayh yang turun di tahap penghabisan di Makkah ialah As-shaffat, Az-zukhruf, Ad-dukhan, Adz-dzariyat, Al-kahfi, Ibrahim, dan As-sajdah.
Tiga tahap tersebut, telah tampak jelas tanda-tanda ke Makkiyahannya, satu sama  lain berlainan sedikit dalam hal wawasan dalam hal susunan kalimatnya sehingga masing-masing kelompok bahkan masing-masing suratnya tampak sebagai kesatuan wawasan yang terjadi dengan sendirinya.5)
           
Yang terpenting dalam obyek kajian para ulama dalam pembahasan ini ialah :

  1. Yang diturunkan di Makkah.
  2. Yang diturunkan di Madinah.
  3. Yang diperselisihkan.
  4. Ayat-ayat Makkiyah dalam surat-surat Madaniyah.
  5. Ayat-ayat Madaniyah dalam surat-surat Makkiyah.
  6. Yang diturunkan di Makkah namun hukumnya Madaniyah.
  7. Yang diturukan di Madinah namun hukumnya Makkiyah.
  8. Yang serupa diturunkan di Makkah dalam kelompok Madaniyah.
  9. Yang serupa diturunkan di Madinah dalam kelompok Makkiyah.
  10.  Yang dibawa dari Makkah ke Madinah.
  11.  Yang dibawa dari Madinah ke Makkah.
  12. Yang turun di waktu malam dan di waktu siang.
  13. Yang turun di musim panas dan di musim dingin.
  14. Yang turun di waktu menetap dan perjalanan.

Inilah macam-macam ilmu Al-Quran yang pokok, berkisar di sekitar Makkiyah dan Madaniyah. Oleh karena itu dinamakan sebagai “Ilmu Al-Makki wa Al-Madani” (Ilmu Makkiyah dan Madaniyah).

Nomor 1, 2 dan 3 adalah pendapat yang lebih mendekati kebenaran tentang jumlah surat-surat makkiyah dan madaniyah.
Adapun Madaniyah ada dua puluh surat , yaitu :
1.      Al-baqarah                                                11. Al-hujurat
2.      Ali Imran                                                   12. Al-hadid
3.      An-nisa’                                                    13. Al-mujadilah
4.      Al-maa’idah                                              14. Al-hasyr
5.      Al-anfal                                                     15. Al-mumtahanah
6.      At-taubah                                                  16. Al-jumu’ah
7.      An-nur                                                       17. Al-munafiqun
8.      Al-ahzab                                                    18. Ath-thalaq
9.      Muhammad                                               19. Ath-tahrim dan
10.  Al-fath                                                        20. An-nashr

Sedangkan yang diperselisihkan ada duabelas surat , yaitu:
1.      Al-fatihah                                                  7. Al-qadr
       2.Ar-ra’d                                                          8. Al-bayyinah
3.      Ar-rahman                                                 9. Az-zalzalah
4.      Ash-syafh                                                  10. Al-ikhlas
5.      Ath-taghabun                                            11. Al-falaq dan
6.      Al-mutaffifin                                             12. An-nas

Kemudian, sisanya (selain yang disebutkan diatas) adalah surat-surat makkiyah, yaitu delapan puluh dua surat . Maka, jumlah surat-surat al-quran semuanya ada seratus empat belas surat .



4. Ayat-ayat Makkiyah dalam surat-surat Madaniyah
            Menamakan sebuah surat itu Makkiyah ataupun Madaniyah bukan berarti bahwa surat tersebut ayat-ayatnya adalah Makkiyah ataupun Madaniyah.
Contoh ayat-ayat Makkiyah dalam surat Madaniyah  adalah surat Al-Anfal yang merupakan Madaniyah tetapi ulama mengecualikan ayat 30,
Muqatil mengatakan “ayat ini turun di Makkah sebab mengandung makna apa yang dilakukan orang musrik di Darul Nadwah ketika mereka merencanakan maker terhadap Rasulullah sebelum hijrah”

5. Ayat-ayat Madaniyah dalam surat Makkiyah
            Contohnya adalah surat Al-An’am kecuali tiga ayat terakhir yang dimadinah, yaitu ayat 151-153.6)
Dan, surat Al-hajj adalah Makkiyah tetapi terdapat tiga ayat yang Madaniyah, yaitu ayat 19-21,

6. Yang diturunkan di Makkah namun hukumnya Madaniyah
            Contohnya adalah firman Allah dalam ayat berikut:

“Wahai manusia sesunggunya kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang palingmulia diantara kamu adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah maha melihat lagi maha mengetahui”. (al-hujurat:13)

Ayat ini diturunkan pada hari penaklukan kota Makkah,tetapi Madaniyah diturunkan selepas hijrah dan para ulama mengatakan bahwa ayat yang turunnya di Makkah namun hukumnya Madaniyah.

7. Ayat yang diturunkan di Madinah namun hukumnya Makkiyah
            Contohnya adalah surat Al-mumtahanah yang diturunkan di Madinah tetapi seruannya untuk penduduk Makkah. Juga pada permulaan surat At-taubah yang diturunkan di Madinah tetapi seruannya untuk penduduk Makkah.

8. Yang serupa yang diturunkan di Makkah dalam kelompok Madaniyah
            Yang dimaksud oleh para ulama adalah ayat-ayat yang terdapat dalam surat Madaniyah tetapi mempunyai gaya bahasa dan cirri-ciri umum seperti surat Makkiyah.contohnya adalah firman Allah dalam surat al-anfal yang Madaniyah, yang dikarenakan permintaan kaum musyrikin untuk disegerakan adzab adalah di Makkah:

“Dan ingatlah ketika orang-orang musyrik berkata, “ya allah jika benar-benar Al-Quran ini dari engkau hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kami adzab yang pedih”. (Al-anfal:32)




9.. Yang serupa diturunkan di Madinah dalam kelompok Makkiyah
Hal ini adalah kebalikan dari yang sebelumnya.contohnya adalah surat al-najm,

“yaitu mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji selain dari kesalahan-kesalahan kecil” (al-najm:32).7)

10. Ayat yang dibawa dari Makkah ke Madinah
Contohnya adalah surat Al-A’la.
H.R Bukhari dari Al-Bara’ bin Azib yang mengatakan “orang yang pertama kali dating kepada kami dikalangan sahabat Nabi adalahMush’ab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum, keduanya membaca Al-quran kepada kami. Sesudah itu dating Ammar, Bilal, dan Sa’ad kemudian dating pula Umar bin Khatab sebagai orang yang kedua puluh. Baru setelah itu dating Nabi. Aku bergembira setelah aku membaca “Sabbihisma rabbikal a’la” dari antara surat yang semisal dengannya.8)

11.  Ayat yang dibawa dari Madinah ke Makkah
Contohnya adalah permulaan surat At-taubah, ketika turun, Rasulullah
memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk membawa ayat tersebut kepada Abu Bakar dan Abu baker membacakannya kepada mereka dan mengumumkan bahwa tahun ini tidak ada seorang musyrik yang boleh berhaji.9)

12.  Ayat yang diturunkan di waktu malam dan di waktu siang
Kebanyakan ayat Al-Quran diturunkan pada siang hari. Mengenai yang diturunkan di malam hari adalah bagian-bagian akhir surat Ali Imran.
Dan surat At-taubah ayat 117-118 yang menceritakan tentang tiga orang yang tidak mengikuti perang Tabuk.
Juga permulaan srat Al-fath.

13.  Ayat yang turun dimusim panas dan dimusim dingin
Contoh ayat yang turun dimusim panas adalah ayat tentang kalalah yang terdapat diakhir surat an-nisa.10).
Lainnya adalah ayat yang turun dalam perang Tabuk yang terjadi saat musim panas yang berat sekali, seperti yang dijelaskan didalam Al-quran.11)

14.  Yang turun diwaktu menetap dan perjalanan
Mayoritas ayat-ayat yang turun adalah saat nama menetap tetapi ada pula yang turun pada saat perjalanan. Contohnya pada surat permulaan Al-anfal yang turun setelah perang Badar, At-taubah 34, permulaan surat Al-hajj yang turunnya pada saat salah satu perjalanan Rasulullah, begitupula surat Al-fath.

CIRI-CIRI KHAS AYAT-AYAT MAKKIYAH DAN MADANIYAH

  1. PENETAPAN MAKKIYAH DAN CIRI KHAS TEMANYA
1.      Setiap surat yang didalamnya mengandung “ayat-ayat sajdah”
    1. Setiap surat yang mengandung lafadz “kalla” dan disebutkan sebanyak tiga puluh tiga kali dalam lima belas surat .
    2. Setiap surat yang mengandung “ya ayyuhan nas”kecuali pada surat Al-hajj ayat 77.
    3. Setiap surat yang mengandung kisah para nabi.
    4. Setiap surat yang mengandung ayat kisah Adam dan iblis kecuali surat Al-baqarah.
    5. Setiap surat yang dibuka dengan huruf-huruf muqatha’ah atau hija’i seperti, alif laam mim, alif lam ra, ha mim dan lainnya. Kecuali surat Al-baqarah dan Ali imran adapun surat Ar-ra’ad masih diperselisihkan.

Adapun cirri khas temanya adalah sebagai berikut :
1.      dakwah dan tauhid serta beribadah hanya kepada Allah.
2.      pengambilan sikap tegas terhadap criminal orang musyrik, memakan harta anak yatim, dan tradisi buruk lainnya.
3.      menyebutkan kisah para nabi umat terdahulu sebagai hiburan bagi Rasul sehingga tabah mengahadapi cobaan.
4.      kalimat yang singkat dan padat disertai kata-kata yang mengesankan, ditelinga terasa menembus dan terdengar sangat keras, menggetarkan hati.

  1. PENETAPAN MADANIYAH DAN CIRI KHAS TEMANYA
    1. Setiap surat yang berisi kewajiban dan sanksi hukum
    2. Setiap surat yang didalamnya menyebutkan orang-orang munafik kecuali surat al-ankabut.
    3. Setiap surat didalamnya mengandung dialog-dialog ahli kitab.

Adapun cirri khas temanya adalah sebagai berikut:
1.      menjelaskan masalah ibadah, muamalah, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan social, hubungan internasional, baok diwaktu damai maupun waktu perang, kaidah hukum, masalah perundang-undangan.
2.      seruan terhadap ahli kitab nasrani dan yahudi dan ajakan terhadap mereka agar masuk islam.
3.      menyingkap perilaku orang yang munafik dan menyingkap keiwaannya agar membuka kedoknya yang sangat berbahaya bagi agama.
4.      suku kata dan ayatnya panjang-panjang dan gaya bahasanya yang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuan syariatnya.

 ___________________________________________________________________________________________________________

1) Dalam hadits shahih dari Umar dijelaskan, bahwa ayat itu turun pada malam Arafah hari jumat tahun haji wada’.
2) Surat Al-fath turun dalam perjalanan. Dan firman Allah, “kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperolehdan perjalanan yang tidak berapa jauh, pasti mereka akan mengikutimu” (At-taubah:42), turun ditabuk. Sedang firman Allah “dan tanyakan kepada rasul-rasul kami yang telah kami utus sebelim kamu” (Az-zukruf;45), turun dibaitul maqdis pada malam isra’.
3) seperti yang diriwayatkan tentang beberapa surat dan ayat, misalnya surat Al-an’am,Al-fatihah,dan ayat kursi.
4)  Habbasyiah: Abesinia, atau Ethiopia sekarang (Edt).
5)  DR. Subhi As-Shalih, membahas ilmu-ilmu Al-Quran
6)  Ibnu Abbas berkata “ surat ini diturunkan sekaligus di Makkah maka ia adalah Makkiyah
7) Menurut As-Suyuthi, perbuatan keji adalah perbuatan yang ada sanksinya, dan dosa besar ialah balasannya api neraka,sedangakan kesalahan kecil adalah batasan dari kedua dosa diatas, sementara pada saat itu di Makkah belum terdapat sanksi yang serupa dengannya.
8) pengertian ini adalah Al-Quran yang dibawa oleh golongan Muhajirin lalu diajarkan pada golongan Anshar
9) yaitu ketika Rasul memerintahkan Abu baker untuk pergi haji pada tahun ke sembilan hijrah
10) “mereka memintamu tentang kalalah, katakanlah “Allah memberi fatwa padamu tentang kalalah (an-nisa 176)
        Kalalah: seseorang yang mati dan tidak mempunyai anak, sedang ia memiliki harta warisan.
11) Al-quran menceritakan kisah ini pada surat At-taubah ayat 81.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar